Zona Aman

Bulan ini tepat setahun saya bergabung di Oriflame. Tak seperti teman-teman yang karir Oriflame-nya melesat, bisa dibilang saya lambat.  Setahun baru level 15%… wow, jelas jauh tertinggal dibandingkan mereka-mereka yang bisa melesat dalam hitungan bulan. Director saya, Mbak Katrin Novianti, bisa sampai level Senior Manajer dalam lima bulan. Tetangga jaringan, Mbak Yulia Riani, malah sampai level itu dalam waktu dua bulan. Sistem Oriflame memang memungkinkan untuk pencapaian-pencapaian keren seperti itu.

Kecewa dengan pencapaian saya?

Enggak. Justru malah jadi tertantang. Lebih dari itu, pencapaian materi saya memang baru 15% (which is bonus baru sekitar Rp 1 juta). Tapi, saya bersyukur sekali untuk pencapaian immaterial yang saya dapatkan di pekerjaan ini. Berani keluar dari zona aman… Yak, pencapaian yang bagi saya tak ternilai dengan uang.

Zona aman. Bagi saya, ini satu level di bawah zona nyaman.

Jika zona nyaman adalah area di mana kita tidak hanya merasa aman, tapi juga nyaman. Maka, zona aman belum tentu nyaman. Namun, setidaknya zona itu lebih nyaman daripada kita harus bangkit dan menghadapi tantangan.

aMAYzing May (Promo Gabung Rp 9.900 SAJAHH!!)

Belum telat-telat banget lah ya untuk posting katalog online Oriflame bulan Mei..

Bulan ini, Oriflame ngeluarin set make-up baru, yakni Marcell Make-Up Pallete dan parfum baru Marcell Eau de Parfum. Penawaran perdana, sudah pasti diskoon guedeee…selengkapnya cek di sini :

http://id.oriflame.com/products/catalogue-viewer.jhtml?per=201205

Daaaan, untuk member baruuu, promonya bener-bener kereeen!!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Daftar CUMA Rp 9.900. Order pertama, minimum order Rp 200 ribu,lansung dapat produk “tender care” (pelembab serbaguna Oriflame) seharga 34.900. GRATISSS!! (Duit Rp 9.900, kalau beli bakso, paling juga dapat semangkok :D )
  2. Bulan 1 total belanja sampai 100 BP/poin, akan mendapat produk  Seeing Believeing Eye Cream ATAU Nort for Men Total Age Control Cream seharga 129rb GRATISS
  3. Bulan 2 total belanja sampai 100 BP/poin akan mendapat produk parfum Enigma Eau de Toilette seharga 429rb ATAU Architect Eau de Toillete seharga 349rb GRATISS.
  4. Bulan 3 total belanja sampai 100 BP/poin akan mendapat produk Jam Tangan dari 45th Anniversary Man ATAU Woman Watch seharga 479rb GRATISS
  5. Kesempatan utk bs mendpt gaji blnan 50rb – 4 juta per bulan, juga jalan2 ke luar negeri

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Promonya nggak berhenti di situ aja loooh..

Ada Enigma Eau de Toilette ATAU Architect Eau de Toilette & 45th Anniversary Woman Watch ATAU 45th Anniversary Man Watch GRATIS*! bagi member yang berhasil merekrut dua member baru yang bisa belanja 100 poin.

Ini nggak hanya untuk member lama lho, tapi juga berlaku untuk member yang baru bergabung sekalipun!

Yuuk dapetin hadiah-hadiah keren dari Oriflame.

Masih Ragu dengan MLM?? Baca ini ya…

COpas dari eyang aplenku Mbak Astriani Karnaningrum, yang dalam tiga tahun menjalani Oriflame-dBC bisa kualifikasi Diamond (it means gaji Rp 30-an juta/bulan, kualifikasi dapat CRV, dan yang lebiihhhh dari ituuu… sudah jadi jalan untuk rezeki buanyaaaak orang, saya salah satunya).

_______________________________________________

Udah pada tahu kan siapa Rangga Umara? Milyuner Lele Lela itu loh.

Penulis buku “DREAM BOOK” yang harus temen-teman BACA!!!!

Di twitternya akhir Maret 2012, ada seorang anak kuliahan yang nanya, bisnis apa yang cocok buat dia? Dan Rangga menjawab MLM, yup Multi Level Marketing. Selengkapnya silakan baca tweetsnya, bisa rekan2 jadikan status juga tuh, kalo bingung mo nulis status apa:) Monggo dibaca:

Charger

pic source : www.suncell-online.com

Setelah saya gunakan sebagai modem ke laptop, daya baterai Nokia E63 saya jadi cepat habis. Sebagai perbandingan, dulu bisa tahan 2-3 hari. Sekarang, dalam sehari, saya mesti men-charge itu HP. Wajar sih, selain karena digunakan sebagai modem, -sebagai HP- seri E63 sudah termasuk uzur hehehe.

Tapi saya nggak akan berpanjang-panjang soal baterai HP ya.. (saya bukan ahli gadget hehehe). Kali ini saya ngomongin soal “baterai semangat”. Semangat sangat dibutuhkan untuk mengerjakan segala sesuatu. Tanpa semangat, tugas atau pekerjaan terasa sebagai beban berat. Dan biasanya, melakukan pekerjaan tanpa semangat akan berakhir pada hasil yang kurang optimal.

Menjalani bisnis Oriflame-dBC Network ini, terasa benaaaar butuh semangatnya. Tanpa semangat baja, gampang banget untuk menyerah. Bisnis Oriflame adalah bisnis marketing. Di mana-mana, yang namanya marketing, selalu butuh semangat. Bahkan sebagian orang langsung ogah dulu sama pekerjaan marketing (hedeuw ga nunjuk orang lain… saya duluuu juga gitu!). Lebih lagi, bisnis Oriflame adalah bisnis multilevel marketing. Weisss, marketing aja ogah, apalagi diembel-embeli multilevel…. Nggak level lah ya join MLM. Serasa turun gengsi. Atau kalaupun nggak gengsi atau nggak males jualan, malesss banget rekrut member. Padahal, bisnis MLM hanya akan berkembang kalau bisa mengembangkan jaringan.

Saya sendiri adalah orang yang mengaku nggak bakat jualan, apalagi bakat rekrut. Dulu pun gabung dBC hanya karena coba-coba. Waktu itu, saya lebih dulu punya toko online sehingga gabung dBC lebih karena ingin belajar sistem internet marketingnya. Namun, perjalanan waktu membuat saya justru lebih konsen ke dBC.

Ih, tapi memang terasa benar butuh semangatnya. Jadi terasa juga kalau bagi saya, bisnis ini adalah ajang untuk mengasah mental. Yeai.. ternyata masih mental jamur nih.. cepet ngembang, tapi juga cepet layu.
Tapi justru karena itu, saya jadi merasakan bener manfaat bisnis MLM. Pertama, sudah ada sistem yang jelas. Adanya sistem yang jelas menolong saya untuk menentukan target. Kedua, banyak orang yang bergerak di bisnis yang sama, dengan tujuan yang sama, dan juga sama-sama butuh semangat. Di bagian ini, terasa banget gunanya kalau lagi butuh semangat. Satu sama lain bisa jadi charger. Nggak melulu upline jadi charger downline, tapi downline juga bisa jadi charger buat upline. Bahkan, antar jaringan (crossline) pun bisa saling jadi charger. Asyiknya, di dBC Network, saling jadi charger ini bisa dilakukan secara online. Di web dBC, ada member area yang bisa jadi ajang sharing antar membernya. Ada juga forum dif b maupun milis. Selain itu, banyak juga blog-blog mandiri para dBC-ers (salah satunya blog saya ini). Sering banget, kalau lagi down, saya “jalan-jalan” ke blog-blog dBC-ers yang bahkan saya tidak kenal siapa dia. Baca-baca semangatnya, perjuangannya, motivasinya, jadi deh saya semangat lagi.

Yups..kalau masih banyak orang yang berpikir negative terhadap bisnis jaringan, saya sih nggak masalah. Mungkin mereka pernah punya pengalaman buruk terhadap salah satu bisnis jaringan yang nggak kredibel. Atau mereka hanya ikut-ikutan menilai buruk atas dasar informasi yang sumir. Bagi saya sih, semua bisnis pasti ada plus minusnya. Tapi, satu hal yang saya suka dari bisnis Oriflame-dBC ini adalah saling-jadi-charger-nya ?

Bisnis dan Spiritualitas

Tadinya mau bikin judul “Bisnis dan Religiusitas”. Sok-sok meniru judul buku almarhum romo favorit saya, YB Mangunwijaya, Sastra dan Religiusitas. Tapi pikir-dipikir, akhirnya saya merasa lebih sreg dengan judul. Dua alasannya, pertama agar tulisan ini tidak diperbandingkan dengan buku Romo Mangun (yeiii..siapa juga mau mbandingin..tanpa dibandingin pun udah jelas jauuuuh bobotnye :D ). Kedua, karena saya rasa spiritualitas lebih luas cakupannya daripada religiusitas yang secara mudah seringkali dihubungkan dengan agama.

Jadi niat menulis ini gara-gara chatting dengan downline saya, Mbak Dhanny Widya, beberapa hari lalu. Ngobrolin ini itu sampai akhirnya sampai pada “setelah punya bisnis sendiri, terasa bangeeet butuh Tuhan.” Hehehe, bukan berarti dulu ketika jadi karyawan nggak butuh Tuhan. Tapi kami membandingkan derajat kebutuhannya. Saya dan Mbak Dhanny ternyata klop soal ini.

Sekali lagi, bukan berarti dulu pas jadi karyawan nggak butuh Tuhan ya.. Tapi mungkin karena pekerjaan sudah rutin, gaji juga sudah rutin, jadi butuh Tuhan-nya juga rutin. Mohon keselamatan dalam perjalanan, mohon kelancaran dalam menjalankan pekerjaan… soal penghasilan : eemmm.. kayaknya dulu enggak pernah worry soal ini karena perusahaan selalu lancar menggaji tiap akhir bulan. Dan buat saya yang saat itu masih single plus basic-nya keluarga sederhana, gaji  waktu itu jauh lebih dari cukup.

Jadi Kepala, Bukan Ekor

Saya ikut-ikutan Mbak Nadia Meutia nulis artikel motivasi nih. Kenapa nulis artikel sementara dari dBC ada artikel motivasi yang bisa saya resend? Karena dengan menulis sendiri, saya  juga sedang memotivasi diri sendiri :)

Pernah kerja jadi karyawan? Atau saat ini sedang/masih jadi karyawan? Saya pernah. Sebelum pensiun dan jadi ibu rumah tangga saya adalah karyawan sebuah perusahaan dengan gaji yang untuk ukuran Indonesia pasti di atas rata-rata. Saya sendiri dulu surprised bisa diterima kerja di sana he2…

Ini bukan mau sombong ya…toh itu sudah masa lalu. Yang mau saya ceritakan adalah, kadang kita tidak selamanya berada di posisi yang nyaman. Saya, dengan segala pertimbangan akhirnya resign supaya tidak berjauhan dengan suami. Bagi saya, long distance family itu nggak enak…dan boros. Tentu saja, awalnya saya merasa berat melepas pekerjaan yang dulu saya impikan itu. Kerjaan yang membuat saya merasa eksis, yang membuat saya mandiri secara finansial.

15 Persen dan Mental Jual Gorengan

Bulan ini cukup bersejarah dalam perjalanan karirku di Oriflame-dBCN. Mengapa? Karena pada bulan ini aku mencapai level 15 persen –di MLM Oriflame, level karirnya adalah dimulai dari konsultan( 3%, 6%,9%), lalu manager (12%, 15%, 18%), senior manager /SM (21%), Director, dan seterusnya.

 

Kuanggap bersejarah karena pencapaiannya seperti sebuah drama (setidaknya demikian bagiku hehehe). Sepanjang aku bergabung di Oriflame, baru kali inilah aku mengalami apa yang sering dikatakan para top leaders : KEAJAIBAN TUPO/tutup poin. Terasa ajaib dan drama karena level itu bisa tercapai pada last minute sebelum batas waktu terakhir order, yakni Sabtu, 31 Maret pukul 19.00. Sementara, Sabtu pagi, aku masih kurang 500 poin (setara kurang lebih belanja Rp 3 juta) untuk menuju level 15%. Sabtu pagi itu juga aku sama sekali belum niat untuk melompat ke level 15%. Aku sudah cukup puas karena telah mencapai target yang kutetapkan di Maret ini, yakni naik dari 9% ke 12%.

 

Tapi, sedari pagi, nenek aplenku Mbak Katrin bilang “mules” liat kekurangan poinku. Mbak Katrin pula yang mencolek-colek cucu dan cicit-ku untuk mendukungku tupo. Wiih, jadi seharian itu mengais-ngais “recehan” poin dari sana-sini. Whatsapp, BBM, chat, aktif terus. Sampai kemudian 15 menit menjelang pukul 19.00 akhirnya terkumpul juga poin yang kubutuhkan. Puji Tuhaaan. Kerja tim yang kereen.

Antara Mimpi dan Kenyataan

Sudah dari lamaaa juga ingin menulis topik ini. Tapi semingguan ini baby boy Ale lagi berubah jam tidurnya, saya jadi sulit menulis. Bangun siang, atau tidur siang lama, malamnya begadang sampai lewat tengah malam. Jumlah jam tidur sih nggak masalah, tetap cukup. Tapi waktu tidurnya ituu lhooo… Sudah berusaha menggeser jam tidurnya dengan membangunkan lebih pagi. Tapi kalau bangun pagi, tidur siangnya jadi dua kali, akibatnya malam begadang lagi :D . Emmh.. belum nemu solusi. Tapi dengar cerita dari beberapa ibu-ibu lain, anak memang kadang begitu. Ntar juga berubah lagi jam tidurnya. Ah ya, semogaaa…

Back to the topic..

Bisnis Oriflame-dBC yang saya jalani saat ini memang “berbasis mimpi”. Pada Oriflame-dBC saya meletakkan impian saya untuk bisa bekerja di rumah dengan penghasilan yang tak kalah (bahkan bisa lebih) dari kerja di luar. Beberapa kali membuat status facebook tentang “meraih mimpi”, saya kadang dapat komentar yang intinya “mimpi itu hanya dilakukan oleh orang-orang yang tidur”. Emh.. nggak salah-salah amat sih. Kan mimpi sendiri sering dibahasakan sebagai “bunga tidur”.

Tapi, mimpi yang saya maksud jelas bukan bunga tidur (walau kadang sampai terbawa jadi bunga tidur juga). Berhubung istilahnya sama, dalam praktiknya pun sebagian bisa sama, jadi deh mimpi dengan “mimpi” dipukul rata.

Merasa NGGAK BAKAT???

Ingin Punya Bisnis tapi (MERASA) Nggak BAKAT Bisnis?

Ingin punya bisnis tapi MERASA nggak punya bakat bisnis. Itu sayaaa…dan mungkin anda yang sedang baca tulisan ini. Jika iya, yuk simak tulisan Pak Rhenald Kasali (tau dong siapa beliau). Tulisan ini sangat menguatkan saya yang saat ini sedang giat menjalankan bisnis Oriflame via dBC Network. Semoga juga bermanfaat bagi Anda :) Sumber : www.rumahperubahan.com

Mitos Tentang Bakat – Jawapos 12 Desember 2011

Gairah orang tua untuk “menemukan” dan “mengembangkan” bakat anak-anaknya kembali muncul. Kalau dulu dibutuhkan seorang psikolog untuk membaca dan melakukan tes bakat seseorang, kini seakan-akan siapa saja bisa. Bisnis tes bakat melalui metode “finger print” pun kembali marak. Bisnis ini semakin ramai karena prinsip yang ditawarkan “siapa saja bisa” asalkan dibantu mesin komputer dan scanner sidik jari. Bukan hanya itu bisnis ini juga diwaralabakan dan pembelinya wajib ikut kursus sehingga, ribuan ibu-ibu rumah tangga yang menganggur pun masuk ke dalam circle ini. Saya bahkan mendengar ada juga yang menggunakan metode sidik jari untuk pelatihan-pelatihan manajemen. Tak peduli usianya berapa, setiap orang seakan-akan bisa dibaca atau cocoknya menjadi apa. Lebih menarik lagi, ramalan bakat dari sidik jari itu dihubung-hubungkan dengan ayat-ayat suci dan tanggal kelahiran (horoscope). Tetapi bukankah bakat itu ada?

Powered by WordPress | Designed by: free css template | Thanks to hostgator coupon codes and shared hosting